![]() |
| Foto : 25 November 2017 |
Untuk apa sih ganti kurikulum…?
Apa gunanya ganti kurikulum?
Ngapain repot-repot ganti kurikulum?
Mari kita baca dan cermati
artikel singkat terkait Perubahan Kurikulum Pendidikan (Kurikulum Merdeka)
berikut ini. Let’s check it out…..!!!!
Akhir-akhir
ini banyak selisih pendapat terkait perubahan kurikulum pada dunia Pendidikan
menjadi Kurikulum Merdeka. Kompetensi Inti (KI) berubah istilah menjadi menjadi
Capaian Pembelajaran (CP), Kompetensi Dasar (KD) berubah istilah menjadi Tujuan
Pembelajaran (TP), Silabus menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan
Pendidikan Karakter berubah menjadi Project Profil atau lebih mudah diingat
dengan sebutan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Apakah ini hanya
pergantian istilah saja?, mari kita kupas lebih lanjut.
Saya setuju dengan beberapa opini dari teman-teman guru dan pemerhati pendidikan untuk berpikir positif terkait perubahan kurikulum ini agar kita bisa membaca dan mengkaji lagi lebih mendalam, untuk itu mari kita membaca naskah panduan akademis dan buku mengenai Kurikulum Merdeka sehingga disini kita akan menemukan dan dapat membandingkan bahwa inti pokok dari CP, TP, ATP dan P5 sangat berbeda dengan KI, KD, Silabus dan Pendidikan Karakter. Capaian pembelajaran atau CP yang dicapai per-fase dapat memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan kebutuhannya dan tidak terlalu banyak. Kemudian kita bandingkan dengan Kompetensi Dasar (KD) yang sebelumnya memuat materi pelajaran yang begitu banyak yang dengan sendirinya guru merasa tidak nyaman jika membuat pembelajaran yang bervariasi karena khawatir tidak bisa menuntaskan materi pembelajaran sehingga yang menjadi korban adalah peserta didik itu sendiri karena siklus pembelajaran yang dilakukan sering dilakukan hanya dengan mengajar, memberi tugas dan mengejar materi pelajaran yang harus tuntas sesuai target atau sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah disusun dan dirancang sedemikian rupa diawal permulaan Pembelajaran.
Akibat
guru cenderung mengejar pembelajaran untuk menuntaskan materi ini sangat
berdampak terhadap peserta didik yang ketinggalan pelajaran, dalam pengertian
yang tinggal akan semakin tertinggal, bagaimana dengan integrasi antar
Kompetensi Dasar/ KD?, jawabannya bisa saja dilakukan, akan tetapi hal ini
tidak ada diatur secara khusus didalam kurikulum, Kembali lagi guru cenderung
tidak nyaman karena harus menuntaskan pembelajaran, guru harus kejar dan terus
mengejar materi yang berdampak tidak baik bagi pemahaman, pengetahuan dan
keterampilan peserta didik yang berbeda.
Kita Kembali ke Capaian Pembelajaran (CP) yang dicapai per-fase dimana fase capaian pembelajarannya tidak terbatas hanya per-semester dan per-tahun, hal ini bisa saja lebih sehingga jika ada anak atau peserta didik yang ketinggalan atau belum memahami dan menguasai pelajaran difase E (kelas X) misalnya, masih bisa dibantu difase F (kelas XI atau Kelas XII) dengan materi difase yang sama dalam artian guru dan peserta didik memiliki banyak waktu untuk mencapai Pembelajaran karena dilaksanakan per-fase.
Kabar
baiknya lagi, bagi guru menjadi lebih Merdeka dalam merancang dan menentukan
waktu untuk setiap Tujuan Pembelajaran (TP) hal ini sangat membantu peserta didik
karena pembelajaran bisa dilakukan lebih detail dan mendalam. Adapun
Langkah-langkah yang bisa dilakukan sebelum materi pembelajaran adalah sebagai
berikut:
- Membuat asesmen awal untuk mengetahui kebutuhan dan kesiapan peserta didik dan memetakannya.
- Membuat pembelajaran diferensiasi sesuai kesiapan dan kebutuhan belajar peserta didik.
- Membuat asesmen formatif untuk mengetahui ketercapaian peserta didik selama proses pembelajaran.
- Membuat feedback/ umpan balik guna memperbaiki proses pembelajaran dan membantu peserta didik mencapai kompetensi.
- Membuat asesmen sumatif dengan tujuan mengukur pencapaian peserta didik sesuai Tujuan Pembelajaran (TP).
Langkah-langkah ini dibuat dan
dilakukan agar pembelajaran bisa dilaksanakan dengan lebih mendalam, berkualitas
dan tidak terburu-buru yang cenderung kejar tayang atau mengejar ketuntasan
meteri pembelajaran.
Perubahan
lainnya yang tidak kalah penting adalah Pendidikan Karakter diganti menjadi
Project Profil dalam hal ini disebut P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila, yang berfokus pada karakter peserta didik melalui pendekatan yang
berbeda dari sebelumnya, dimana pendekatan disini mendapat jam khusus yakni 20 -
30 % yang tidak hanya dimasukkan diekstrakurikuler maupun intrakurikuler,
dengan adanya jam khusus yang juga panjang sehingga bisa dicapai proses
pembelajaran berbasis project. Didalam project profil terdapat dimensi dan
elemen kunci P5 ini diantaranya:
a. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa (YME), dan berakhlak mulia,
b. Berkebinekaan Global,
c. Bergotong Royong,
d. Mandiri,
e. Bernalar Kritis dan
f. Kreatif.
Kesemua dimensi
dan elemen kunci ini dapat dinilai pada proses pembelajaran berbasis project
sehingga penilaian Project profil atau penilaian karakter peserta didik tidak
hanya sekedar formalitas saja yang mana apabila proses pembelajaran berbasis
project dan kontekstual ini dilakukan dilakukan dengan fokus maka peserta didik
dapat benar-benar mengenal lingkungannya dengan baik.
Kesimpulannya
perubahan kurikulum ini bukan hanya sekedar pergantian istilah maupun perubahan
administrasi pendidikan, melainkan adalah melakukan perubahan kecil yang
berdampak sangat besar bagi kebutuhan peserta didik, juga demi memperbaiki serta
menguatkan kompetensi dan karakter peserta didik. Untuk itu mari kita rubah
paradigma berpikir kita agar lebih bisa memahami kebutuhan peserta didik.
Terimakasih
semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, Merdeka…..!!!!
Tulisan di Blog ini merupakan Aksi Nyata berbagi pemahaman tentang Kurikulum Merdeka, bagaimana Aksi Nyata ini menurut Anda? Mohon bantuannya untuk memberikan tanggapan tentang Aksi Nyata ini di kolom komentar.




Saya juga berfikir sebelumnya kurikulum merdeka itu sulit. Tetapi setelah membaca dan memahaminya ternyata memudah kan kita untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari yang saya baca artikel ini nemang kurikulum merdeka tdak lah sulit. Kita bisa merancang pembelajaran yang baik sebelum memulai pembelajarab. Krena rancangan yang baik akan menghasilkan yang bai pula.
BalasHapusBetul sekali Bapak, saya sependapat terimakasih banyak atas tanggapan dan komentarnya
BalasHapusSangat setuju dengan pendapat ini. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk lebih fleksibel dalam mengajar, dan itu bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.
BalasHapusMenarik! Saya setuju bahwa perubahan kecil dalam kurikulum bisa memiliki dampak besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan individu peserta didik.
BalasHapusSangat bagus melihat langkah-langkah konkret yang diambil dalam menyambut perubahan kurikulum. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk memahami dan mendukung Kurikulum Merdeka.
BalasHapusSetelah mempelajarinya saya jadi tahu bahwa kurikulum merdeka itu menyenangkan
BalasHapusTerima kasih atas tulisan yang sangat informatif ini, saya sepenuhnya mendukung ide bahwa Kurikulum Merdeka bukan hanya sekadar pergantian istilah, tetapi sebuah inovasi yang akan membawa perubahan yang besar dalam dunia pendidikan. Semoga lebih banyak orang dapat membaca dan memahami pentingnya langkah ini.
BalasHapus