Selasa, 22 Oktober 2024

       

    Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1

"Pengambilan keputusan dan kaitannya dengan 

Filosofi Ki Hadjar Dewantara"



Oleh: Saiful Efendi, CGP 11, Kelas 11.90 BGP Aceh, SMA Negeri 1 Blangjerango, 
Kabupaten Gayo Lues


Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan tiga Pratap Triloka yakni, Ing ngarso sung tulodo, Ing madya magun karsa dan Tut wuri handayani memiliki kaitan yang sangat erat dengan pengambilan keputusan untuk seorang pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus menyadari dengan baik tentang perannya dalam upaya memberikan pembelajaran yang sesuai kebutuhan murid agar bisa berprilaku dengan baik sesuai degan tumbuh kembangnya. Seorang pendidik jika didepan sudah sepatutnya memberi contoh dan tauladan bagi murid dengan jujur dan konsisten terhadap nilai-nilai kebajikan dan mampu mengambil keputusan pada dilema etika maupun bujukan moral yang dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran.

Dalam pengambilan sebuah keputusan secara naluriah biasanya kita cenderung kepada aturan apa yang benar dan apa yang salah, melihat dari sisi empati dan rasa belas kasihan, dan biasanya kita akan melihat dampak dari keputusan yang akan kita ambil tersebut untuk jangka panjang  pengaruhnya dimasa yang akan datang. Untuk itu sebagai pemimpin peran kita tidak hanya ketika didepan, bahkan kita harus mampu memberikan semangat ketika berada ditengah terlebih dalam pengambilan keputusan kita bisa bekerjasama dengan anggota, dalam konteks pembelajaran adalah dengan murid dengan mendengarkan pendapat mereka, memberikan dorongan dan motivasi jika ada dibelakang dalam upaya membuat murid menjadi mandiri untuk menumbuhkan bakat dan minatnya. Dengan pegambilan keputusan yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan maka pembelajaran yang diharapkan berpihak dan sesuai kebutuhan murid akan terwujud dengan baik.

Pendekatan coaching dalam pengambilan keputusan merupakan langkah yang sangat efektif yang dapat kita gunakan disaat kita mengalami dilema antara beberapa pilihan keputusan yang harus kita lakukan, terlebih ketika keputusan yang sudah diambil tersebut menjadi pertanyaan bagi diri kita sendiri apakah keputusan yang diambil tersebut sudah tepat atau malah sebaiknya, maka kita bisa melakukan coaching melakukan percakapan dengan orang lain yang kita percaya sebagai upaya refleksi dan evaluasi atas keputusan yang sudah kita ambil tersebut.

Seorang guru harus memiliki dan mampu menguasai kompetensi sosial dan emosional untuk mengelola dirinya dalam berinteraksi dengan murid disekolah terutama saat pembelajaran dikelas, begitu juga dalam upaya menjalin relasi dan hubungan yang harmonis denga rekan guru lainnya dan seluruh warga sekolah, dengan begitu seorang guru akan mampu mengambil sebuah keputusan yang baik bagi semua pihak ketika menghadapi dilema etika dalam pembelajaran.

Studi kasus yang sering dihadapi oleh seorang guru adalah dari permasalahan dirinya dan tanggung jawab untuk profesi itu sendiri. Untuk itu dalam mengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran terkadang perlu melakukan pengujian keputusan sebelum memutuskannya, karena terkadang ada bagian dari nilai-nilai kebenaran itu sediri yang harus ditinggalkan karena pertimbangan rasa kasihan dan memikirkan dampak yang semakin tidak baik bagi individu maupun banyak orang. Hendaklah keputusan dilakukuan dengan pengujian sebelum ditetapkan, agar bisa dianalisa kembali kebermanfaatannya dan tidak menimbulkan permasalahan baru setelah ditetapkan.

Tantangan yang saya temui dalam pengambilan keputusan mengenai dilema etika di lingkungan sekolah yang sering muncul adalah dari perbedaan nilai dan sudut pandang itu sendiri dan ketika ada perubahan paradigma. Sebagai contoh pada saat ada pendekatan baru yang lebih inklusif yang berdampak bagi kesejahteraan dan kebutuhan belajar murid, maka pada awal penerapan pendekatan ini akan ada penolakan penolakan, namun apa pun itu dengan kedewasaan berpikir seorang pemimpin kita harus bijak dalam menyikapi hal ini. Akan selalu saja ada cara pandang yang bertentangan dari pihak-pihak yang berpendapat bahwa keputusan yang diambil tersebut meski sudah baik menurut kita belum tentu sesuai bagi sebahagian yang lain.

 

Melalui Pendidikan CGP dimodul ini saya banyak belajar dan memahami tentang pentingnya dilema etika, bujukan moral, dan langkah-langkah pengujian keputusan untuk mengambil keputusan dengan mengkategorikan kedalam paradigma yang mana dari empat paradigma yang ada dan juga tiga prinsip pengambilan keputusan yakni rule, care dan end based thinking. Sebelum mempelajari dan memahami paradigma, langkah dan prinsip pengambilan keputusan di modul ini, biasanya dalam pengambilan keputusan saya hanya melihat dan menganalisa berdasarkan apa yang benar dan apa yang salah atau hanya melihat sisi baik dan tidak baik dari keadaan yang akan diputuskan, namun setelah mempelajari bahan bacaan, pemahaman dan contoh-contoh studi kasus di modul ini, saya menjadi lebih paham dan menguasai tentang langkah-langkah dalam pengambilan keputusan yang sebaiknya dilakukan. Dengan melakukan dan menerapkan tahapan dan proses analisa permasalahan masalah, memikirkan opsi, dan pengujian-pengujian sebelum ditetapkan dengan tersusun rapi, saya merasakan hal semua hal ini sangat membantu saya dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan yang adil dan baik serta bermanfaat positif bagi semua pihak yang terkait.   

Akhirnya pada tulisan diblog ini saya menyimpulkan bahwa pengaruh nilai-nilai kebajikan dan etika sangat memiliki peranan dalam upaya pengambilan keputusan yang baik. Seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki kompetensi dan pemahaman yang baik untuk mengetahui kebutuhan belajar dan potensi murid-muridnya. Dengan menerapkan dan terus belajar untuk mengasah kompetensi dalam menghadapi dilema etika sebagai pemimpin pembelajaran, kita bisa lebih bijaksana dan reflektif untuk menentukan langkah pengambilan keputusan yang tepat, karena kita juga harus mengetahui bahwa pilihan keputusan yang kita ambil tidak hanya akan berdampak terhadap diri kita sendiri melainkan juga bagi tumbuh kembang murid, warga sekolah dan masyarakat yang terkait yang ada disekeliling kita. Setelah pengambilan keputusan yang kita lakukan, kita bisa merefleksi kembali terhadap diri kita atas keputusan tersebut, dalam hal ini implementasi coaching akan sangat membantu kita dalam memperbaiki sekaligus memastikan keputusan yang kita ambil tesebut apakah sudah baik, tepat dan bermanfaat bagi semua pihak pada suatu kasus terkait.

Saya yakin dengan terus mengasah kompetensi dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin pembelajaran dalam konteks ini adalah pendidik akan semakin terampil dan bijak dalam upaya membimbing murid yang dengan beragam karakter, potensi, bakat minat serta kebutuhan belajar akan terwujud serta terlaksana dengan baik dan sesuia harapan cita-cita pendidikan Indonesia. Untuk itu saya ingin mengajak melalui tulisan ini mari kita semua, sebagai pemimpin pembelajaran untuk terus belajar untuk berinovasi sagar bisa menciptakan suasana belajar dan lingkungan pendidikan yang positif sehingga kemerdekaan belajar bagi murid dan generasi penerus bangsa ini akan terwujud.

        Tulisan ini adalah tugas saya sebagai CGP pada bagian koneksi antar materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, tentunya masih banyak kekurangan mengenai isi dan serta keterkaitan dari materi yang disampaikan, untuk itu saya sengat mengharapkan tanggapan dan saran yang membangun dari semua guru dan unsur pendidik yang membaca tulisan ini, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.



 

             Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 "Pengambilan keputusan dan kaitannya dengan  Filosofi Ki Hadjar Dewantara...