Selasa, 22 Oktober 2024

       

    Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1

"Pengambilan keputusan dan kaitannya dengan 

Filosofi Ki Hadjar Dewantara"



Oleh: Saiful Efendi, CGP 11, Kelas 11.90 BGP Aceh, SMA Negeri 1 Blangjerango, 
Kabupaten Gayo Lues


Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan tiga Pratap Triloka yakni, Ing ngarso sung tulodo, Ing madya magun karsa dan Tut wuri handayani memiliki kaitan yang sangat erat dengan pengambilan keputusan untuk seorang pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus menyadari dengan baik tentang perannya dalam upaya memberikan pembelajaran yang sesuai kebutuhan murid agar bisa berprilaku dengan baik sesuai degan tumbuh kembangnya. Seorang pendidik jika didepan sudah sepatutnya memberi contoh dan tauladan bagi murid dengan jujur dan konsisten terhadap nilai-nilai kebajikan dan mampu mengambil keputusan pada dilema etika maupun bujukan moral yang dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran.

Dalam pengambilan sebuah keputusan secara naluriah biasanya kita cenderung kepada aturan apa yang benar dan apa yang salah, melihat dari sisi empati dan rasa belas kasihan, dan biasanya kita akan melihat dampak dari keputusan yang akan kita ambil tersebut untuk jangka panjang  pengaruhnya dimasa yang akan datang. Untuk itu sebagai pemimpin peran kita tidak hanya ketika didepan, bahkan kita harus mampu memberikan semangat ketika berada ditengah terlebih dalam pengambilan keputusan kita bisa bekerjasama dengan anggota, dalam konteks pembelajaran adalah dengan murid dengan mendengarkan pendapat mereka, memberikan dorongan dan motivasi jika ada dibelakang dalam upaya membuat murid menjadi mandiri untuk menumbuhkan bakat dan minatnya. Dengan pegambilan keputusan yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan maka pembelajaran yang diharapkan berpihak dan sesuai kebutuhan murid akan terwujud dengan baik.

Pendekatan coaching dalam pengambilan keputusan merupakan langkah yang sangat efektif yang dapat kita gunakan disaat kita mengalami dilema antara beberapa pilihan keputusan yang harus kita lakukan, terlebih ketika keputusan yang sudah diambil tersebut menjadi pertanyaan bagi diri kita sendiri apakah keputusan yang diambil tersebut sudah tepat atau malah sebaiknya, maka kita bisa melakukan coaching melakukan percakapan dengan orang lain yang kita percaya sebagai upaya refleksi dan evaluasi atas keputusan yang sudah kita ambil tersebut.

Seorang guru harus memiliki dan mampu menguasai kompetensi sosial dan emosional untuk mengelola dirinya dalam berinteraksi dengan murid disekolah terutama saat pembelajaran dikelas, begitu juga dalam upaya menjalin relasi dan hubungan yang harmonis denga rekan guru lainnya dan seluruh warga sekolah, dengan begitu seorang guru akan mampu mengambil sebuah keputusan yang baik bagi semua pihak ketika menghadapi dilema etika dalam pembelajaran.

Studi kasus yang sering dihadapi oleh seorang guru adalah dari permasalahan dirinya dan tanggung jawab untuk profesi itu sendiri. Untuk itu dalam mengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran terkadang perlu melakukan pengujian keputusan sebelum memutuskannya, karena terkadang ada bagian dari nilai-nilai kebenaran itu sediri yang harus ditinggalkan karena pertimbangan rasa kasihan dan memikirkan dampak yang semakin tidak baik bagi individu maupun banyak orang. Hendaklah keputusan dilakukuan dengan pengujian sebelum ditetapkan, agar bisa dianalisa kembali kebermanfaatannya dan tidak menimbulkan permasalahan baru setelah ditetapkan.

Tantangan yang saya temui dalam pengambilan keputusan mengenai dilema etika di lingkungan sekolah yang sering muncul adalah dari perbedaan nilai dan sudut pandang itu sendiri dan ketika ada perubahan paradigma. Sebagai contoh pada saat ada pendekatan baru yang lebih inklusif yang berdampak bagi kesejahteraan dan kebutuhan belajar murid, maka pada awal penerapan pendekatan ini akan ada penolakan penolakan, namun apa pun itu dengan kedewasaan berpikir seorang pemimpin kita harus bijak dalam menyikapi hal ini. Akan selalu saja ada cara pandang yang bertentangan dari pihak-pihak yang berpendapat bahwa keputusan yang diambil tersebut meski sudah baik menurut kita belum tentu sesuai bagi sebahagian yang lain.

 

Melalui Pendidikan CGP dimodul ini saya banyak belajar dan memahami tentang pentingnya dilema etika, bujukan moral, dan langkah-langkah pengujian keputusan untuk mengambil keputusan dengan mengkategorikan kedalam paradigma yang mana dari empat paradigma yang ada dan juga tiga prinsip pengambilan keputusan yakni rule, care dan end based thinking. Sebelum mempelajari dan memahami paradigma, langkah dan prinsip pengambilan keputusan di modul ini, biasanya dalam pengambilan keputusan saya hanya melihat dan menganalisa berdasarkan apa yang benar dan apa yang salah atau hanya melihat sisi baik dan tidak baik dari keadaan yang akan diputuskan, namun setelah mempelajari bahan bacaan, pemahaman dan contoh-contoh studi kasus di modul ini, saya menjadi lebih paham dan menguasai tentang langkah-langkah dalam pengambilan keputusan yang sebaiknya dilakukan. Dengan melakukan dan menerapkan tahapan dan proses analisa permasalahan masalah, memikirkan opsi, dan pengujian-pengujian sebelum ditetapkan dengan tersusun rapi, saya merasakan hal semua hal ini sangat membantu saya dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan yang adil dan baik serta bermanfaat positif bagi semua pihak yang terkait.   

Akhirnya pada tulisan diblog ini saya menyimpulkan bahwa pengaruh nilai-nilai kebajikan dan etika sangat memiliki peranan dalam upaya pengambilan keputusan yang baik. Seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki kompetensi dan pemahaman yang baik untuk mengetahui kebutuhan belajar dan potensi murid-muridnya. Dengan menerapkan dan terus belajar untuk mengasah kompetensi dalam menghadapi dilema etika sebagai pemimpin pembelajaran, kita bisa lebih bijaksana dan reflektif untuk menentukan langkah pengambilan keputusan yang tepat, karena kita juga harus mengetahui bahwa pilihan keputusan yang kita ambil tidak hanya akan berdampak terhadap diri kita sendiri melainkan juga bagi tumbuh kembang murid, warga sekolah dan masyarakat yang terkait yang ada disekeliling kita. Setelah pengambilan keputusan yang kita lakukan, kita bisa merefleksi kembali terhadap diri kita atas keputusan tersebut, dalam hal ini implementasi coaching akan sangat membantu kita dalam memperbaiki sekaligus memastikan keputusan yang kita ambil tesebut apakah sudah baik, tepat dan bermanfaat bagi semua pihak pada suatu kasus terkait.

Saya yakin dengan terus mengasah kompetensi dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin pembelajaran dalam konteks ini adalah pendidik akan semakin terampil dan bijak dalam upaya membimbing murid yang dengan beragam karakter, potensi, bakat minat serta kebutuhan belajar akan terwujud serta terlaksana dengan baik dan sesuia harapan cita-cita pendidikan Indonesia. Untuk itu saya ingin mengajak melalui tulisan ini mari kita semua, sebagai pemimpin pembelajaran untuk terus belajar untuk berinovasi sagar bisa menciptakan suasana belajar dan lingkungan pendidikan yang positif sehingga kemerdekaan belajar bagi murid dan generasi penerus bangsa ini akan terwujud.

        Tulisan ini adalah tugas saya sebagai CGP pada bagian koneksi antar materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, tentunya masih banyak kekurangan mengenai isi dan serta keterkaitan dari materi yang disampaikan, untuk itu saya sengat mengharapkan tanggapan dan saran yang membangun dari semua guru dan unsur pendidik yang membaca tulisan ini, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.



 

Rabu, 14 Agustus 2024

 

Membangun Budaya Positif di Sekolah: Langkah Nyata Menuju Pendidikan yang Berpihak pada Murid







 

Oleh: Saiful Efendi, Calon Guru Penggerak Angkatan 11, SMA Negeri 1 Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Budaya positif di sekolah adalah fondasi penting yang mendukung tercapainya pendidikan yang holistik dan berpihak pada murid. Sebagai calon guru penggerak, saya merasa terpanggil untuk berbagi pengalaman dalam menerapkan budaya positif sesuai dengan konsep-konsep yang dipelajari dari Modul 1.4 Budaya Positif.

 

1. Disiplin Positif

 

Disiplin positif bukan sekadar aturan keras, tetapi pendekatan yang mendidik murid untuk memiliki tanggung jawab dan kesadaran diri. Fokusnya adalah membangun motivasi internal pada murid sehingga mereka berperilaku baik bukan karena paksaan atau iming-iming, tetapi karena kesadaran akan nilai-nilai kebajikan yang mereka yakini.

 

2. Memahami Motivasi Perilaku Manusia

 

Motivasi adalah kunci dalam memahami perilaku murid. Ada tiga motivasi utama: menghindari hukuman, mencari imbalan, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Sebagai guru, penting bagi kita untuk menggali motivasi internal murid dan mendorong mereka untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut.

 

3. Posisi Kontrol Guru

 

Guru memiliki peran yang beragam dalam kelas, dari penghukum hingga manajer. Namun, yang paling efektif adalah peran sebagai manajer, di mana guru membantu murid menemukan solusi dan bertanggung jawab atas tindakannya. Dengan demikian, murid belajar untuk menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab.

 

4. Pembuatan Keyakinan Sekolah atau Kelas

 

Budaya positif di sekolah tidak bisa terwujud tanpa keyakinan bersama yang diterapkan oleh seluruh warga sekolah. Guru berperan penting dalam membangun dan menerapkan keyakinan ini, yang menjadi landasan bagi terciptanya lingkungan belajar yang positif dan inklusif.

 

5. Segitiga Restitusi dalam Penyelesaian Masalah

 

Segitiga restitusi adalah alat yang sangat efektif untuk menyelesaikan masalah dengan menekankan pada tiga langkah: menstabilkan identitas murid, memvalidasi tindakan yang salah, dan mengaitkannya dengan keyakinan yang diyakini murid. Pendekatan ini membantu murid belajar dari kesalahan dan mendorong pertumbuhan karakter yang kuat.

 

Pengalaman Pribadi

 

Sebelum memahami konsep-konsep ini, saya cenderung mengambil peran sebagai penghukum dan pemantau. Namun, setelah mempelajari modul ini, saya mulai berperan sebagai manajer dan menggunakan segitiga restitusi dalam menangani masalah di kelas. Perubahan ini tidak hanya membuat saya lebih tenang, tetapi juga membantu saya membangun komunikasi yang lebih efektif dengan murid, sehingga mereka lebih bertanggung jawab terhadap tindakan mereka.

 

Kesimpulan

 

Budaya positif di sekolah adalah langkah penting dalam mendukung pendidikan yang berpihak pada murid. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan agar budaya positif ini tidak hanya berkembang di sekolah, tetapi juga di rumah, sehingga menjadi bagian dari karakter murid.

 

Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi rekan-rekan guru lainnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.

 

Salam Guru Penggerak: Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


klik 👉Bukti Karya di PMM (Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif)

klik 👉 Video YouTube Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif

klik disini 👉kunjungi Channel YouTube Saiful Efendi

Kamis, 11 Juli 2024

Mulai dari Diri Refleksi diri tentang Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Tugas CGP-11_90_bgp_aceh_Saiful Efendi

1.1.e. Mulai dari Diri - Modul 1.1 Refleksi diri tentang Pemikiran Ki Hadjar Dewantara




                                                                                                              

        Yang saya ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran adalah, yang pertama menekankan pentingnya tiga pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat harus saling bekerjasama untuk menciptakan lingkungan belajar yang holistik. Kedua asas tut wuri handayani yang maksudnya seorang pendidik harus memberikan dorongan kepada peserta didik agar berkembang sesuai potensinya. Ketiga menekankan pendidikan yang humanis berbasis karakter, budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik. Keempat kemandirian dalam belajar dan yang terakhir tentang pendidikan yang bepijak pada budaya nasional dan terbuka terhadap kemajuan zaman. 

        Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah saya secara khusus antara lain : Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar, Penguatan Pendidikan Karakter. Untuk sekolah saya sendiri (SMA Negeri 1 Blangjerango Kabupaten Gayo Lues) sudah menerapkan Kurikulum Merdeka (Mandiri Berubah) semenjak tahun lalu artinya kelas 10 tahun lalu dan akan naik kelas 11 tahun ini sudah melaksanakan, tentunya peserta didik baru tahun ini juga otomatis menerapkan kurikulum merdeka kecuali untuk untuk kelas 12 tahun ini masih menerapkan Kurikulum 13. Relevansi lainnya saya dan rekan guru disekolah saya aktif belajar dan menegerjakan RHK juga mengikuti webinar dan lain-lain yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar.

        Sebagai guru saya sudah melaksanakan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan memiliki kemerdekaan akan tetapi saya merasa belum sepenuhnya karena saya merasa cara mengajar yang telah saya lakukan selama ini belum begitu humanis, adaptif dan fleksibel dalam artian belum begitu berfokus terhadap peserta didik itu sendiri, saya masih ingin saya terus mengembangkan diri melalui pelatihan dan membaca karya-karya pendidikan, tentunya melalui program Pendidikan Guru Penggerak ini saya berharap bisa menginternalisasi gagasan Ki Hajar Dewantara. Saya bertekad untuk menjadi pendidik yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur dan membangun karakter anak didik yang merdeka dan berakhlak mulia sehingga mereka bisa berkembang sesuai dengan bakat minat dan potensinya.

Harapan yang ingin saya lihat pada diri saya sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini antara lain:

1. Pemahaman Mendalam tentang Filosofi Pendidikan KHD

2. Kemampuan Menerapkan Metode Pengajaran yang Inovatif

3. Meningkatnya kompetensi saya dalam Mengembangkan Karakter Siswa

4. Mampu dalam Membangun Kolaborasi

5. Memahiami pendidikan yang Berpihak pada Siswa

dan harapan saya untuk murid-murid saya:

Kemandirian mereka dalam Belajar, Peningkatan Karakter dan Budi Pekerti dan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif mereka, bisa saling Kolaborasi dan Kerja Sama dan semakin menyadari Budaya dan Identitas Nasional.

Adapun Kegiatan, materi dan manfaat yang saya harapkan ada dalam modul ini:

Kegiatan Interaktif dan Partisipatif, Materi yang Relevan dan Kontekstual, Studi Kasus dan Contoh Nyata, Alat dan Teknik Evaluasi yang InklusifPengembangan Kompetensi Guru, Panduan untuk Membangun Kolaborasi dengan Komunitas.

Kamis, 01 Februari 2024

Kisah Heroik Pang Aman Dimot (Pahlawan Kebal Peluru)

 


Aman Dimot (Abu Bakar) Sang Pejuang Aceh yang Kebal Peluru dan Pedang
Aceh, tanah yang melahirkan pahlawan. Dari Cut Nyak Dien hingga Panglima Polim, namanya terukir dalam sejarah Indonesia. Namun, ada satu nama yang mungkin belum Anda kenal, namun layak mendapatkan gelar pahlawan nasional - Aman Dimot.
Aman Dimot, pejuang dari dataran tinggi Gayo, berjuang dengan cara yang unik dan berbeda. Dia menghadang tank dan truk pasukan Belanda, dan dikenal kebal terhadap serangan pedang dan peluru. Keberaniannya dan kemampuannya dalam perang gerilya pada tahun 1940-an sangatlah luar biasa.
Pada tanggal 30 Juli 1949, di Tanah Karo, Sumatera Utara, Aman Dimot dan pasukannya menyerang iring-iringan tank dan truk Belanda. Meski pasukannya lelah dan bala bantuan Belanda semakin melemahkan perlawanan mereka, Aman Dimot tetap berjuang. Bahkan saat diperintahkan untuk mundur, bersama dua orang rekannya yakni Pang Ali Rema dan Pang Edem dia memilih untuk melanjutkan perang.
Aman Dimot, pemuda kelahiran Tenamak, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, ini adalah simbol keberanian dan keteguhan. Saat pasukan Belanda memastikan para korban sudah mati, Aman Dimot bersama Pang Ali Rema dan Pang Edem bangkit dan menyerang mereka dengan beringas dari yang mereka semula berpura-pura mati. Banyak pasukan Belanda yang mati kala itu.
Namun, Pang Ali Rema dan Pang Edem gugur pada pertempuran tersebut sementara Pang Aman Dimot akibat kelelahan akhirnya ditangkap. Pasukan Belanda yang frustrasi memasukkan granat ke dalam mulutnya dan menggilas tubuhnya dengan tank. Pada tanggal 30 Juli 1949, gugurlah Aman Dimot di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatera Utara.
Aman Dimot mungkin belum secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional, tetapi dia adalah pahlawan bagi rakyat Aceh dan Indonesia. Mari kita kenang dan hargai jasa-jasa para pahlawan kita."

#AmanDimot
#PahlawanAceh
#PerangGerilya
#IlyasLeube
#PerlawananBelanda
#KebalPeluruPedang
#PejuangGayo
#PerangTanahKaro
#PasukanBaguraMujahidin
#sejarahindonesia
#PangAliRema
#PangEdem
#SejarahGayo



Selasa, 08 Agustus 2023

“KURIKULUM MERDEKA ITU HANYA GANTI ISTILAH” (adalah Pendapat yang keliru)

                                                                                                                                                                              Foto : 25 November 2017

 

Untuk apa sih ganti kurikulum…?

Apa gunanya ganti kurikulum?

Ngapain repot-repot ganti kurikulum?

 

Mari kita baca dan cermati artikel singkat terkait Perubahan Kurikulum Pendidikan (Kurikulum Merdeka) berikut ini. Let’s check it out…..!!!!

 

      Akhir-akhir ini banyak selisih pendapat terkait perubahan kurikulum pada dunia Pendidikan menjadi Kurikulum Merdeka. Kompetensi Inti (KI) berubah istilah menjadi menjadi Capaian Pembelajaran (CP), Kompetensi Dasar (KD) berubah istilah menjadi Tujuan Pembelajaran (TP), Silabus menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan Pendidikan Karakter berubah menjadi Project Profil atau lebih mudah diingat dengan sebutan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Apakah ini hanya pergantian istilah saja?, mari kita kupas lebih lanjut.

 

      Saya setuju dengan beberapa opini dari teman-teman guru dan pemerhati pendidikan untuk berpikir positif terkait perubahan kurikulum ini agar kita bisa membaca dan mengkaji lagi lebih mendalam, untuk itu mari kita membaca naskah panduan akademis dan buku mengenai Kurikulum Merdeka sehingga disini kita akan menemukan dan dapat membandingkan bahwa inti pokok dari CP, TP, ATP dan P5 sangat berbeda dengan KI, KD, Silabus dan Pendidikan Karakter. Capaian pembelajaran atau CP yang dicapai per-fase dapat memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan kebutuhannya dan tidak terlalu banyak. Kemudian kita bandingkan dengan Kompetensi Dasar (KD) yang sebelumnya memuat materi pelajaran yang begitu banyak yang dengan sendirinya guru merasa tidak nyaman jika membuat pembelajaran yang bervariasi karena khawatir tidak bisa menuntaskan materi pembelajaran sehingga yang menjadi korban adalah peserta didik itu sendiri karena siklus pembelajaran yang dilakukan sering dilakukan hanya dengan mengajar, memberi tugas dan mengejar materi pelajaran yang harus tuntas sesuai target atau sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  yang sudah disusun dan dirancang sedemikian rupa diawal permulaan Pembelajaran.

 

  Akibat guru cenderung mengejar pembelajaran untuk menuntaskan materi ini sangat berdampak terhadap peserta didik yang ketinggalan pelajaran, dalam pengertian yang tinggal akan semakin tertinggal, bagaimana dengan integrasi antar Kompetensi Dasar/ KD?, jawabannya bisa saja dilakukan, akan tetapi hal ini tidak ada diatur secara khusus didalam kurikulum, Kembali lagi guru cenderung tidak nyaman karena harus menuntaskan pembelajaran, guru harus kejar dan terus mengejar materi yang berdampak tidak baik bagi pemahaman, pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang berbeda.    

 

   Kita Kembali ke Capaian Pembelajaran (CP) yang dicapai per-fase dimana fase capaian pembelajarannya tidak terbatas hanya per-semester dan per-tahun, hal ini bisa saja lebih sehingga jika ada anak atau peserta didik yang ketinggalan atau belum memahami dan menguasai pelajaran difase E (kelas X) misalnya, masih bisa dibantu difase F (kelas XI atau Kelas XII) dengan materi difase yang sama dalam artian guru dan peserta didik memiliki banyak waktu untuk mencapai Pembelajaran karena dilaksanakan per-fase.

               

      Kabar baiknya lagi, bagi guru menjadi lebih Merdeka dalam merancang dan menentukan waktu untuk setiap Tujuan Pembelajaran (TP) hal ini sangat membantu peserta didik karena pembelajaran bisa dilakukan lebih detail dan mendalam. Adapun Langkah-langkah yang bisa dilakukan sebelum materi pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Membuat asesmen awal untuk mengetahui kebutuhan dan kesiapan peserta didik dan memetakannya.
  2. Membuat pembelajaran diferensiasi sesuai kesiapan dan kebutuhan belajar peserta didik.
  3. Membuat asesmen formatif untuk mengetahui ketercapaian peserta didik selama proses pembelajaran.
  4. Membuat feedback/ umpan balik guna memperbaiki proses pembelajaran dan membantu peserta didik mencapai kompetensi.
  5. Membuat asesmen sumatif dengan tujuan mengukur pencapaian peserta didik sesuai Tujuan Pembelajaran (TP).

Langkah-langkah ini dibuat dan dilakukan agar pembelajaran bisa dilaksanakan dengan lebih mendalam, berkualitas dan tidak terburu-buru yang cenderung kejar tayang atau mengejar ketuntasan meteri pembelajaran.

 

Perubahan lainnya yang tidak kalah penting adalah Pendidikan Karakter diganti menjadi Project Profil dalam hal ini disebut P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, yang berfokus pada karakter peserta didik melalui pendekatan yang berbeda dari sebelumnya, dimana pendekatan disini mendapat jam khusus yakni 20 - 30 % yang tidak hanya dimasukkan diekstrakurikuler maupun intrakurikuler, dengan adanya jam khusus yang juga panjang sehingga bisa dicapai proses pembelajaran berbasis project. Didalam project profil terdapat dimensi dan elemen kunci P5 ini diantaranya:

a. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), dan berakhlak mulia,

b. Berkebinekaan Global,

c. Bergotong Royong,

d. Mandiri,

e. Bernalar Kritis dan

f. Kreatif.

Kesemua dimensi dan elemen kunci ini dapat dinilai pada proses pembelajaran berbasis project sehingga penilaian Project profil atau penilaian karakter peserta didik tidak hanya sekedar formalitas saja yang mana apabila proses pembelajaran berbasis project dan kontekstual ini dilakukan dilakukan dengan fokus maka peserta didik dapat benar-benar mengenal lingkungannya dengan baik.

 link download Modul Ajar Bahasa Inggris Fase E (Descriptive Text):


link download Modul Ajar Bahasa Inggris Fase E ( Personal Recount Text) Sport Events Bab 2
link download PPT  Personal Recount Text





Kesimpulannya perubahan kurikulum ini bukan hanya sekedar pergantian istilah maupun perubahan administrasi pendidikan, melainkan adalah melakukan perubahan kecil yang berdampak sangat besar bagi kebutuhan peserta didik, juga demi memperbaiki serta menguatkan kompetensi dan karakter peserta didik. Untuk itu mari kita rubah paradigma berpikir kita agar lebih bisa memahami kebutuhan peserta didik.

Terimakasih semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, Merdeka…..!!!!

Tulisan di Blog ini merupakan Aksi Nyata berbagi pemahaman tentang Kurikulum Merdeka, bagaimana Aksi Nyata ini menurut Anda? Mohon bantuannya untuk memberikan tanggapan tentang Aksi Nyata ini di kolom komentar.

 

                                                         





Senin, 10 Juli 2023

Beberapa Jenis Kata Kerja “melompat/ meloncat” dalam Bahasa Gayo beserta penjelasan makna dan penggunaannya.


Beberapa Jenis Kata Kerja “melompat/ meloncat” dalam Bahasa Gayo beserta penjelasan makna dan penggunaannya.

1.       lumpet/ nlumpet                             

2.       luncet/ nluncet                 

3.       tanyor/ nanyor                                 

4.       ketes/ ngetes

5.       tergem/ nergem

Penjelasan :

1.      lumpet/ nlumpet = biasanya digunakan ketika melakukan gerakan melompat dari satu tempat yang datar kemudian keatas dan jatuh atau bertumpu ketempat yang datar juga. Contoh dalam kalimat :

Bahasa Gayo         : cube lumpet i ko pegerni ikengukmu kuosah ningko sen.

Bahasa Indonesia  : coba kamu lompat melewati pagar ini kalau kamu bisa saya akan berikan uang.

2.     luncet/ nluncet = hampir sama dengan dengan lumpet sedikit perbedaan luncet sering digunakan tiba-tiba atau tanpa persiapan, dibeberapa tempat masyarakat Gayo mengunakan kata kerja lumpet dan luncet nyaris tanpa ada perbedaan sama sekali karena kedua kata ini merupakan sinonim dan meski digunakan pada kondisi dan situasi yang berbeda makna dari ucapan masih bisa dipahami dengan baik. Contoh dalam kalimat:

Bahasa Gayo        : gikensanahku luncet aku kuserap ni rak e.

Bahasa Indonesia : tanpa sadar saya melompat keseberang parit tersebut.

3.       tanyor/ nanyor = digunakan ketika melakukan gerakan melompat dari satu tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi. Contoh :

Bahasa Gayo        : agine nguk ku nanyor kuatas ni atu kul ho ari tuyuhni.

Bahasa Indonesia : dulu saya bisa melompat ke batu besar itu dari bawah sini.

4.       ketes/ ngetes     : kebalikan dari tanyor, ketes/ngetes digunakan ketika melakukan gerakan melompat dari atas ke bawah. Contoh :

Bahasa Gayo        : turah ngetes ko ku tuyuhni ya, kete ne ta ha mai e.

Bahasa Indonesia : terpaksa kamu melompat kebawah, karena tangganya entah siapa yang mengambil.

5.       tergem/ nergem : adalah gerakan melompat dari atas ke tempat yang lebih rendah biasanya kedalam air (sungai/ kolam dan lain-lain) dan bisa jadi kedalam semak belukar. Contoh dalam percakapan :

Bahasa Gayo         :  Si A : kunehmu sangka waktu dedik lebah mane?

                                 Si B : turah nergem ku was ni aih e ike gereke takunehpeh kadang.

                                 Si A : yuh…!!? kul tuah mu ya woy.

                                 Si B : sangsile aku ta aih e relem, ara nsen kekire ku was ni karit e kah.

Bahasa Indonesia : Si A : bagaimana caramu menyelamatkan diri saat dikejar lebah kemarin?

                               Si B : terpaksa lompat kedalam air (sungai) kalau tidak saya tidak tahu

     bagaimana jadinya.

                               Si A : wah…!!? beruntung sekali nasibmu kawan.

                               Si B : sebenarnya saya ragu karena sungainya dalam, sempat berpikir juga 

                                         untuk melompat kesemak-semak.

Demikian beberapa jenis kata kerja “melompat/ meloncat” dalam Bahasa Gayo beserta penjelasan makna dan penggunaannya, perlu diketahui penggunaan kata-kata diatas sesuai dengan Bahasa yang digunakan oleh penulis/ penyusun artikel ini sendiri sehari-hari, karena Bahasa Gayo merupakan Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Gayo yang secara majemuk, dalam artian tergantung situasi, kondisi dan juga domisili, maksud domisili disini adalah digunakan berdasarkan tempat tinggal dan pemahaman makna oleh masyarakat setempat yang boleh jadi berbeda penggunaan antara suatu Kampung dengan Kampung lain, Kecamatan, terlebih antara masyarakat Gayo yang ada di Daerah (Kabupaten dan Provinsi Lainnya). Meski demikian makna maupun maksud dari ucapan akan segera dimengerti ketika diucapkan dengan intonasi maupun mimik wajah atau gerakan yang tepat.

Pada artikel ini penulis mengajak mari bersama-sama kita lestarikan Bahasa, Seni dan Budaya masyarakat Gayo agar tidak hilang ditelan zaman, jika ada kesalahan maupun ketidak sesuaian pada artikel ini saya memohon maaf dan silahkan berikan tanggapan, masukan juga saran yang sifatnya membangun pada kolom komentar agar penyusunan artikel ini menjadi lebih baik lagi.

Terimakasih, semoga artikel ini bermanfaat dan mudah dipahami, Wassalam…



#kata kata bahasa gayo

#kata2 bahasa gayo

 

 

 

Sabtu, 01 Juli 2023

67 PERIBAHASA, MUTIARA KATA, NASEHAT DAN KATA KIASAN DAERAH GAYO


1. UME BEPEGER - KORO BERUER, MALU BERUANG - MAS BEPURO.

2. REMALAN ENTI BONGKOK, ENTI CATOK KAYU PELONGOHAN.

3. LAGU GULUNGEN TEPAS, GULUNGEN KUL GERE MISI WAS.

4. NARU-NARU MUS-MUS KUYU, KUL-KUL DEDARING LO.

5. AMPUNG-AMPUNG PULO UNGEREN MURIP UYETE CIMO, UNGEREN MATE ULUNGE IJO.

6. BELUH SARA LOLOTEN, MEWEN SARA TAMUNEN.

7. ENTI LAGU KAYU AGING, AMAT EMPAT NAHI MESING, EMPAT PE MATE KAYU KERING.

8. ENGON SAREH PANANG - PANANG NYATA, AMAT MUTUBUH - PANGAN MURASA.

9. TUNUNG TAPAS - DEWE MUTU.

10. ATUR ENTI PIPET, UKUR ENTI BELE

11. ARE KEN PENYUKET, SETA KEN PENYIPET.

12. ARE OPAT KAL, SETA ROA JENGKAL.

13. BELUH BETUNUNG, OSOP BEPERAH.

14. SA MAN NANGKA WE KONA GETAH, SA SI SALAH WE MASUK NERAKA.

15. LEBE BUNTET, LAIN I WAS LAIN I DERET.

16. LABU UYET, IDERET LIMUS WAS MUKEREBET.

17. NERAH KUPI SEMANGKOK, BEWEH SI RUSUH BAGE SI ROJOK.

18. MAMUK IJO MAH CERAK, KU INI MAH CERAK KUSOO.

19. LUAH KEMUNG RUNGEL GENIT, WE BERUNTUNG JEMA CIRIT.

20. KUNE NANGIN GI BEKUYU, KUNE DIE MELIN AMPA.

21. SESAT ULAK KU DENE, TINGKIS ULAK KU BIDE.

22. NGE BETIH KAYU GI MUWAH, NARAN PAYAH NYESUKEN SIGE.

23. KAYU TENGAH MUWAH, MANUK KUL KUCAK TURAH SINGAH.

24. ENTI LAGU TANUK BERKAS, RALIK MURUM UJUNG MULUAH.

25. KUNUL TERUKEN MUTUS PERI, REMALAN TERMULO REGANG TALI.

26. SI BIJAK KEN PERAWAH, SI TEGER KEN PENEMAH.

27. MANUK LELI - GI PUJI JEMA PUJI KENDIRI

28. KUATAS GI NAEH PUCUK. KUTUYUH GINAEH MUYET.

29. UMAH NGE MUNGE MELING TUKUL.

30. WASNI UMAH ARA KEMPONG, WASNI KELAH ARA TERBONG, WASNI CERAH ARA KELDONG.

31. JURAH BEJAMUT - TALU BESAUT.

32. BELUH TERIDAH UDUK, GEH TERIDAH ARAP.

33. BELUH BERUNGER, ULAK BESINEN.

34. ALANG BETULUNG - BERAT BEBANTU.

35. LEPAS BERULO - TARING BERAI.

36. LIMUS ENTI MUTINGKI - BULET ENTI MUSAGI.

37. PAKAT JEROH - GENAB BISE.

38. REGOS MUPENYANGKILEN - LANGKAH MUAMILEN.

39. RATIB SARA ANGUK, KUNUL SARA DUK.

40. REMPAK SUSUN, SUSUN PEDI.

41. ALIH KEN LANGKAHE, CEDUNG KEN REBAHE.

42. KUETNI MANUK KARNA SAYAP, KUETNI UMET KARNA PAKAT.

43. ENGKIP MULO RAK, KATI SOWAH KU LAH NUME.

44. SALAH KU UKUM TOBAT, SALAH KU EDET DOLAT.

45. KULE MUPENGARUTEN, KUCING MUTORA MANGAN.

46. MURIP IKANUNG EDET, MATE IKANUNG UKUM.

47. NASIP NI ATU DENEN, NASIPNI SABUT TIMUL.

48. REMALAN BETUNGKET, BEPERI BERABUN.

49. SALAH BETEGAH, BENAR BEPAPAH.

50. ENTI NGEKE WASNI GEDOK, ENTI NITOK WASNI ARE.

51. KORO NGORO - KUCING MAN KERO.

52. GI JE SESAH NGELUNTUR, GI JEN JEMUR NGE BALO.

53. REMALAN ENTI BEGERDAK, JANGKO/ MUJAMUT ENTI MUNYINTAK.

54. KELABU E GI PERSEH PADUK E GI PANAL. (added by : FB  Zheze Itemz) 

55. NIRO SAGI KU PETULE, NIRO DABUL KU PENGGELE (added by : FB Ruhaima Ema)

56. KORO SI MAH TANUK NGUK KORO BUNGKUK NGE GATALAN. (added by : FB  Zheze Itemz)

57. NANGISI UREN SENUEN GI TASAK, NANGISI PORAK SINUEN MEH LAYU.

added by Kanda Muslim Ismail, M.AP (source: berbagai sumber)

58. IKE NOME ENTI SAWAH TERANG, IKE DEDIANG ENTI SAWAH IYO.

59. IKE SOBOH TIR KO UWET, BARING SANA BUET ENTI MERKE I KO

60. IKE KITE MURIPNI TURAH RINGEN TULEN KATI OSAH TUHEN KITE DELE REJEKI.

61. IKE BECERAK KITE ENTI KUNE KENAK, ENTI MUGERANTANG ENTI MUSESEPAK.

62. IKE NOSAH ENTI MUSERGAK, IKE MUJAMUT ENTI MUNYINTAK.

63. IKE SI KUL I TALU AKA ATAU ABANG
IKE NGE BUJANG I TALU TENGKU ATAU UJANG.

64. IKE BELUH ARI UMAH TURAH BERUNGER,
ENTI SEMPAT PENGE PEH KEBER NGE TENGKAM NI KULE.

65. BESE MIEN KU ANAK BERU : IKE MALE BELUH ENTI SESERENG,
KATI ENTI SENGENG I PANANG HEME.

66. SOMANA UTEN TEBES TEBANG KEN LADANG, SOMANA BELANG RUKAH CANGKUL TOSAN KEN UME.
**********************
67. IKE MUNENGON ENTI MUTANGAK, IKE REMALAN ENTI BEGERDAK.

Demikian 66 Peribahasa, Mutiara Kata, Nasehat dan Kata Kiasan Daerah Gayo yang penulis peroleh dari catatan lama yang disimpan oleh Almarhum Orangtua/ Bapak kami tercinta (Alm. H. Muhammad Sultan Bin Sultan) yang juga diperoleh dari berbagai sumber (saudara dan teman-teman). Dengan sengaja kami tuliskan kembali di halaman blog ini agar generasi muda juga bisa mengenal Peribahasa, Mutiara Kata, Nasehat dan Kata Kiasan Daerah Gayo agar tidak hilang ditelan zaman. Juga bagi saudara/i yang mau mempelajari tentang Bahasa Gayo silahkan kunjungi blog ini.

Tentunya masih banyak yang belum terangkum disini, untuk itu bagi teman-taman dan saudara-saudariku yang punya atau ingat ada dari Peribahasa, Mutiara Kata, Nasehat dan Kata Kiasan Daerah Gayo ini belum penulis tuliskan disini silahkan berikan komentarnya di bagian kolom komentar agar bisa penulis tambahkan pada tulisan ini, terimakasih... Wassalam...

                                                                                                                    Gayo Lues, 1 Juli 2023


#pepatah gayo
#kumpulan pepatah gayo
#bahasa gayo dan artinya
#pepatah gayo tentang cinta
#kata kata mutiara bahasa gayo dan artinya
#caption bahasa gayo
#pepatah bahasa gayo
#kata mutiara bahasa gayo dan artinya
#pepatah gayo jemen
#pepatah gayo sindiran
#pepatah gayo lucu
#kata2 gayo
#kata2 bahasa gayo
#lirik lagu gayo

 
 

             Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 "Pengambilan keputusan dan kaitannya dengan  Filosofi Ki Hadjar Dewantara...